Diberdayakan oleh Blogger.

Senin, 28 April 2014

Tagged under: ,

Budaya? ya Harus Selalu Dijaga!

Yogyakarta, CocoteIndonesia -  Indonesia adalah Negara yang kaya akan budaya terbentang dari sabang sampai merauke. Tidak di ragukan lagi Indonesia sebagai Negara yang kaya akan budaya memiliki daerah, agama, Suku bangsa yang berbeda, dan tentunya Indonesia memiliki budaya yang memiliki ciri khas setiap daerahnya dimana salah satunya adalah daerah istimewa Yogyakarta. Yang merupakan daerah istimewa yang memiliki berbagai macam budaya, adat, dan kebiasaan kebiasaan tertentu, dan tentunya tidak ada di daerah Indonesia yang lainnya. Daerah istimewa Jogjakarta memiliki berbagaimacam budaya, dari kesenian contohnya tarian, seni rupa, seni musik dan yang lainnya. DIYogyakarta sendiri juga memiliki berbagai macam adat dan tradisi, upacara adat adalah salah satu kebudayaan yang terus selalu dijaga dan sampai saat ini masih sering dilakukan oleh masyarakan Jogja dari bahasa daerahnya sendiri, Jogja merupakan pusat bahasa dan sastra jawa. 

Bapak Ambari, seorang tukang becak di Yogyakarta


“Tentu saja kebudayaan yang sangat kami banggakan ini harus selalu dijaga dan terus dilestarikan agar anak cucu kita kelak bisa merasakan bagaimana indahnya kebudayaan yang ada di Jogja dan harus ada banyak pihak yang harus turut berperan dalam melestarikan budaya di Jogja ini’’ tutur bapak Ambari. Demi melestarikan dan membuat budaya tersebut tetap hidup di jaman era globalisasi seperti saat ini teknologi informasi sangat diperlukan untuk bidang kebudayaan, kenapa? Karena informasi itu sendiri bisa berbagi dalam Negara sendiri maupun Negara luar. Dengan adanya ini semua, budaya yang ada pada setiap daerah bangsa dan Negara tetap bisa dijaga dan tidak adanya penyelewengan Negara lain yang mengaku-ngaku suatu budaya Negara lain sebagai budaya negaranya sendiri sejak nenek moyang jaman dahulu.


Jumat, 25 April 2014

Tagged under: ,

Pendidikan, Menanam Benih Inspirasi Untuk Bangsa


Cocote Indonesia - Pendidikan, ya pendidikan. Bukan lah sebuah hal yang asing di telinga, maupun dipikiran kita. Saya menulis tulisan ini, mengerti setiap kata dan rangkaian kalimat di tulisan ini, itu semua karena pendidikan. 

Tentu jelas, di umur Negara Indonesia yang sudah berkepala 6 ini bila dihidupi tanpa pendidikan, rasanya begitu mustahil dan fiksi. Dia, bisa bertahan sejauh ini karena dia juga memiliki pendidikan sebagai nyawanya. Seperti yang kita ketahui dengan sangat jelas pula, di pelajaran sejarah khususnya, di awal gembar – gembornya masalah penjajahan, perang dunia, dan semacamnya, disitulah mulai lahir dan menjadi cetak awal sejarah pendidikan di Indonesia, seperti kisah Ki Hajar Dewantara, salah satunya.


                Menoleh dari itu semua, pendidikan telah menjadi jantung yang terus berdetak seiring Negara ini bernafas, menjalani kehidupannya, melangkah menuju Negara Maju di Dunia. Oleh karenanya sebagai jantung kehidupan Negara Indonesia, harus senantiasa dijaga kesehatannya, untuk tetap berfungsi dengan baik, memompa dengan baik, dan menjadi organ yang tak akan rusak nantinya.

                Namun, tujuan utama dalam sebuah pendidikan, bukanlah sekedar mendidik anak bangsa, para penerus bangsa untuk tahu huruf, angka, dan hal – hal kecil lainnya. Itu terlalu implisit menurut saya. Mari kita lihat pendidikan dari belakang kulitnya yang selama ini mungkin tertutup bagi kalian, atau mungkin saya sendiri. Pendidikan lahir tentu dari sesosok penggagas, tak lahir begitu saja, tak muncul seketika, dan juga tak turun dari langit layaknya hujan yak tak pernah kita sambut kedatangannya. Penggagas – penggagas ini lah para pemeran utama sekaligus dalang dalam permainan pendidikan di Indonesia ini, seperti para guru, para pengajar, dan sekutu – sekutunya.

                Oleh karena itulah, tujuan utama terlahirnya di Indonesia adalah untuk menciptakan sebuah “Inspirasi”. Mereka para kuli pendidikan, actor pendidikan, memberikan sebuah pengajaran, ilmu, wawasan, pengetahuan, sastra, dan segala hal bukan hanya untuk asupan didikan anak bangsa, melainkan untuk menjadi penyebar virus inspirasi kepada mereka. Anies baswedan, seorang akademisi, seorang aktivis, seorang yang berjiwa muda dengan karakteristiknya yang mulai menua, yang juga turut menjadi penggasa Gerakan Indonesia Mengajar ini juga memiliki perspektif pendidikan bukanlah hanya menjadi alat untuk mencerdaskan bangsa, namun menjadi tonggak utama sebagai inspirasi pendidikan, yang harapannya, para peserta didik bangsa akan turut menjajaki, menjalani, para pemberi inspirasi itu, untuk melanjutkan diri menjadi sosok penyebar inspirasi berikutnya. Sehingga, hal ini menjadi sebuah kerja nyata, tidak, ini akan menjadi mimpi yang nyata bagi bangsa Indonesia. Sebuah inovasi yang cerdas dalam menilai sebuah estetika dalam dunia pendidikan.

                Lihat, jika andalah salah satu para pengajar muda yang datang ke sebuah pelosok negeri garuda ini, dan memberikan sejuta ilmu serta wawasan kepada mereka, apa yang akan mereka pikirkan terhadap anda?. Walau kita tak dapat menebak pasti dengan survey yang sudah tersebar bahkan, tak akan ada jawaban yang seratus persen sama, tentu berbeda. Namun, setidaknya, saya, atau anda pun akan turut yakin, bahwa akan ada peserta didik yang akan berpikir, bahwa pendidikan adalah hal yang penting yang harus tetap dilestarikan untuk bangsa ini. Mungkin contoh kecilnya, dari sepuluh peserta didik, ada yang menunjuk nunjuk kepada anda, dan dia mengatakan, “aku ingin menjadi sepertimu, mengajari kami sejuta ilmu, memberi kami sejuta wawasan, lalu didiklah kami, agar kami bisa menjadi sepertimu, dan meneruskan jejakmu untuk anak cucu kami”.

                Bayangkan kawan. Indonesia bukan lagi menjadi Negara kaya akan budaya, wisata, sumber daya alam bahkan hal lainnya, Indonesia  akan menjadi Negara kaya akan pendidikan. Bahkan, sebisa mungkin, dan memang seharunysa, Negara dengan pendidikan terbaik seperti Firlandia, akan tergeser kedudukannya dengan Indonesia. Namun, ini dilihat kembali, dari bagaimana menciptakan point of view dari sebuah pendidikan kepada Negara ini Menanamkan bagaimana pentingnya sebuah pendidikan bagi anak – anak bangsa ini. Dan yang paling terpenting pula, merubah system pendidikan di Indonesia ini melalui tangan – tangan serta pemikir – pemikir yang memang berkompeten, dan menjiwai pendidikan itu sendiri, yang tak hanya tau menau, bahkan sok tau dalam hal pendidikan. Sehingga hal ini pula yang dapat mengiritkan, menciutkan dompet Negara dengan hal – hal yang memang tak perlu dilakukan untuk menjunjung pendidikan, seperti studi banding ke Negara lain dengan hasil yang nihil, atau lainnya. Kita harus berpikir cerdas untuk Indonesia yang lebih cerdas. (Nash)

Kamis, 24 April 2014

Tagged under: ,

Ini Harapan Kami!





Yogyakarta, CocoteIndonesia - Presiden bukan hanya sebagai pemimpin sebuah negara. Presiden juga sebagai panutan rakyatnya. Selain itu presiden mengambil andil yang besar untuk mensejahterakan rakyatnya. Selain Suparmin,  berikut ini adalah untaian-untaian kata yang berisi harapan rakyat kecil untuk seorang presiden terpilih nanti.



Tukang becak, tukang parkir, anak-anak sekolah serta pedagang tersebut menyuarakan harapan mereka melalui coretan-coretan kami. Mereka mengungkapkan dalam kata-kata yang berbeda. Mereka mengungkapkan dengan ekspresi yang tak sama. Tapi hanya satu kriteria pemimpin yang mereka harapkan yaitu pemimpin yang dapat membuat negara ini maju. Maju dalam hal apa? Tentu saja perekonomian, pendidikan, dan aspek kehidupan lain yang menyangkut negara beserta rakyatnya. Negara bersatu, bukan malah menjual pulau-pulau untuk kepentingan pribadi. Selain itu mereka menginginkan pemimpin yang bersih. Bebas dari korupsi. Rakyat kecil sudah terlalu muak dengan korupsi yang merenggut hak-hak mereka. Pemimpin yang pro rakyat sangat dibutuhkan saat ini!

Rakyat kecil hanya bisa berharap. Nasib mereka ada di tangan sang presiden yang mereka percaya. Dengan harapan mereka yang begitu besar pada presiden terpilih nanti, apakah sang presiden akan pro terhadap rakyat atau hanya memupuk kekayaan mereka sendiri? Tentu saja kuncinya ada di dalam diri sang presiden.
Salam CocoteIndonesia!

Sabtu, 19 April 2014

Tagged under: ,

Indonesia dulu dan sekarang?


 



Yogyakarta, CocoteIndonesia – Indonesia banyak sekali mengukir perbedaan di jaman yang makin maju atas intelektualitas dari bangsanya sendiri. Dari zaman hitam putih sampai dengan tahun kuda politik di 2014 ini tentunya. Ukiran yang menjadi perbedaan bisa dilihat dari berbagai dimensi kehidupan yang ada. Dimensi inilah yang juga turut mempengaruhi perkembangan rakyat sang garuda yang konon sudah sedari Bung Karno memproklamasikan untuk kemerdekaan Negerinya.
Sudut pandang dalam menilai sejarah pun tertuang dari berbagai opini, bahasa, kata – kata, untaian kalimat, tuturan yang berbeda – beda pula. Sudut pandang inilah yang juga menjadi acuan perbedaan dari tahun ke tahun, dari Negeri Indonesia yang masih dalam tahap perkembangan sampai tahap perkembangan yang hanya naik sekian persen. Mungkin, masih butuh berpuluh – puluh tahun untuk mencapai kategori atau nominasi Negara Maju itu. Butuh berjuta – juta pula kesan yang dapat dibentuk untuk menjadikan Indonesia Negara Maju. Maka akan tercipta, milyaran kata – kata, serta ungkapan terhadap perubahan yang menjulang tinggi untuk Indonesia Raya itu.
Seperti halnya yang diungkapkan Pak Parmaji, seorang yang berpenampilan cukup trendy yang tetap menampakkan usianya yang sudah makin menua. Parmaji mengukir kalimat yang menjadi perbedaan antara Indonesia yang sekarang dengan Indonesia di zaman Soeharto dan Soekarno menggenggamnya. Berikut adalah video yang dapat mewakili tulisan kami dan opini dari Bapak Parmaji.


Rabu, 16 April 2014

Tagged under: ,

Seperti apa Presiden Idaman Indonesia ?

COCOTE INDONESIA - Indonesia baru saja melaksanakan pemilu atau pemilihan umum pada tanggal 9 april 2014 lalu. Banyak kader yang mencalonkan sebagai anggota Legislatif di Indonesia, sehingga rakyat bingung siapa yang harus mereka pilih. 
Pada tanggal 9 Juli 2014 nanti Indonesia juga memiliki jadwal untuk pemilihan presiden. Presiden baru diharapkan bisa membawa Indonesia menjadi negara yang maju dan sejahtera. Hal yang sangat penting untuk kemajuan Indonesia, ini membuat kami penasaran akan harapan - harapan rakyat. Seperti apakah pemimpin atau presiden idaman rakyat Indonesia ? 
Senin, 14 april 2009 kami tim "Cocote Indonesia" melakukan wawancara kepada seorang tukang becak yang berada di kawasan Malioboro Yogyakarta, Pak Suparmin namanya. Kami bertanya mengenai pemilu yang di laksanakan 9 april lalu dan harapannya untuk presiden yang nantinya akan terpilih itu seperti apa. Beliau menjelaskan bahwa ia belum tau siapa saja yang mencalonkan menjadi Presiden, tapi beliau tetap menginginkan pemimpin yang baik dan bersih. Artinya Pak Suparmin ini menginginkan Presiden RI yang nantinya bisa mengerti bagaimana posisi rakyat kecil dan juga tidak ada kasus korupsi yang merugikan banyak pihak.
Pak Suparmin juga menyampaikan keluhan yang beliau rasakan ditempat ia tinggal yaitu didaerah Bantul yang jaraknya 20 km dari Malioboro. Beliau menjelaskan bahwa didaerah tempat tinggalnya tersebut gas LPG dan minyak tanah sudah semakin mahal dan langka. Hal ini sangat memberatkan rakyat kecil karena gas LPG atau minyak tanah merupakan kebutuhan pokok setiap rakyat. Tidak hanya itu saja beliau juga menjelaskan bahwa gas LPG di daerahnya tersebut datangnya hanya beberapa bulan sekali, padahal gas LPG 3kg itu hanya bisa digunakan maksimal 2-3 minggu.
Diakhir wawancara Pak Suparmin berharap semoga pemimpin yang menjadi Presiden nanti bisa menjadikan rakyat sejahtera, sembako murah, Indonesia aman, dan pendidikan sekolah yang maju, bersih dari korupsi.

Tidak hanya Pak Suparmin, tetapi kita semua pasti berharap memiliki seorang pemimpin yang memiliki dampak positif bagi kemajuan Indonesia tercinta.
Salam cocote Indonesia :)