Diberdayakan oleh Blogger.

Jumat, 25 April 2014

Tagged under: ,

Pendidikan, Menanam Benih Inspirasi Untuk Bangsa


Cocote Indonesia - Pendidikan, ya pendidikan. Bukan lah sebuah hal yang asing di telinga, maupun dipikiran kita. Saya menulis tulisan ini, mengerti setiap kata dan rangkaian kalimat di tulisan ini, itu semua karena pendidikan. 

Tentu jelas, di umur Negara Indonesia yang sudah berkepala 6 ini bila dihidupi tanpa pendidikan, rasanya begitu mustahil dan fiksi. Dia, bisa bertahan sejauh ini karena dia juga memiliki pendidikan sebagai nyawanya. Seperti yang kita ketahui dengan sangat jelas pula, di pelajaran sejarah khususnya, di awal gembar – gembornya masalah penjajahan, perang dunia, dan semacamnya, disitulah mulai lahir dan menjadi cetak awal sejarah pendidikan di Indonesia, seperti kisah Ki Hajar Dewantara, salah satunya.


                Menoleh dari itu semua, pendidikan telah menjadi jantung yang terus berdetak seiring Negara ini bernafas, menjalani kehidupannya, melangkah menuju Negara Maju di Dunia. Oleh karenanya sebagai jantung kehidupan Negara Indonesia, harus senantiasa dijaga kesehatannya, untuk tetap berfungsi dengan baik, memompa dengan baik, dan menjadi organ yang tak akan rusak nantinya.

                Namun, tujuan utama dalam sebuah pendidikan, bukanlah sekedar mendidik anak bangsa, para penerus bangsa untuk tahu huruf, angka, dan hal – hal kecil lainnya. Itu terlalu implisit menurut saya. Mari kita lihat pendidikan dari belakang kulitnya yang selama ini mungkin tertutup bagi kalian, atau mungkin saya sendiri. Pendidikan lahir tentu dari sesosok penggagas, tak lahir begitu saja, tak muncul seketika, dan juga tak turun dari langit layaknya hujan yak tak pernah kita sambut kedatangannya. Penggagas – penggagas ini lah para pemeran utama sekaligus dalang dalam permainan pendidikan di Indonesia ini, seperti para guru, para pengajar, dan sekutu – sekutunya.

                Oleh karena itulah, tujuan utama terlahirnya di Indonesia adalah untuk menciptakan sebuah “Inspirasi”. Mereka para kuli pendidikan, actor pendidikan, memberikan sebuah pengajaran, ilmu, wawasan, pengetahuan, sastra, dan segala hal bukan hanya untuk asupan didikan anak bangsa, melainkan untuk menjadi penyebar virus inspirasi kepada mereka. Anies baswedan, seorang akademisi, seorang aktivis, seorang yang berjiwa muda dengan karakteristiknya yang mulai menua, yang juga turut menjadi penggasa Gerakan Indonesia Mengajar ini juga memiliki perspektif pendidikan bukanlah hanya menjadi alat untuk mencerdaskan bangsa, namun menjadi tonggak utama sebagai inspirasi pendidikan, yang harapannya, para peserta didik bangsa akan turut menjajaki, menjalani, para pemberi inspirasi itu, untuk melanjutkan diri menjadi sosok penyebar inspirasi berikutnya. Sehingga, hal ini menjadi sebuah kerja nyata, tidak, ini akan menjadi mimpi yang nyata bagi bangsa Indonesia. Sebuah inovasi yang cerdas dalam menilai sebuah estetika dalam dunia pendidikan.

                Lihat, jika andalah salah satu para pengajar muda yang datang ke sebuah pelosok negeri garuda ini, dan memberikan sejuta ilmu serta wawasan kepada mereka, apa yang akan mereka pikirkan terhadap anda?. Walau kita tak dapat menebak pasti dengan survey yang sudah tersebar bahkan, tak akan ada jawaban yang seratus persen sama, tentu berbeda. Namun, setidaknya, saya, atau anda pun akan turut yakin, bahwa akan ada peserta didik yang akan berpikir, bahwa pendidikan adalah hal yang penting yang harus tetap dilestarikan untuk bangsa ini. Mungkin contoh kecilnya, dari sepuluh peserta didik, ada yang menunjuk nunjuk kepada anda, dan dia mengatakan, “aku ingin menjadi sepertimu, mengajari kami sejuta ilmu, memberi kami sejuta wawasan, lalu didiklah kami, agar kami bisa menjadi sepertimu, dan meneruskan jejakmu untuk anak cucu kami”.

                Bayangkan kawan. Indonesia bukan lagi menjadi Negara kaya akan budaya, wisata, sumber daya alam bahkan hal lainnya, Indonesia  akan menjadi Negara kaya akan pendidikan. Bahkan, sebisa mungkin, dan memang seharunysa, Negara dengan pendidikan terbaik seperti Firlandia, akan tergeser kedudukannya dengan Indonesia. Namun, ini dilihat kembali, dari bagaimana menciptakan point of view dari sebuah pendidikan kepada Negara ini Menanamkan bagaimana pentingnya sebuah pendidikan bagi anak – anak bangsa ini. Dan yang paling terpenting pula, merubah system pendidikan di Indonesia ini melalui tangan – tangan serta pemikir – pemikir yang memang berkompeten, dan menjiwai pendidikan itu sendiri, yang tak hanya tau menau, bahkan sok tau dalam hal pendidikan. Sehingga hal ini pula yang dapat mengiritkan, menciutkan dompet Negara dengan hal – hal yang memang tak perlu dilakukan untuk menjunjung pendidikan, seperti studi banding ke Negara lain dengan hasil yang nihil, atau lainnya. Kita harus berpikir cerdas untuk Indonesia yang lebih cerdas. (Nash)

2 komentar:

  1. Lumayan gan, tapi lebih banyak kasih data yah, jangan ful opini :)

    BalasHapus
  2. Siap :) , itu bisa jadi bahan koreksi kami ke depan. terima kasih :)

    BalasHapus