Cocote Indonesia
- Pendidikan, ya
pendidikan. Bukan lah sebuah hal yang asing di telinga, maupun dipikiran kita.
Saya menulis tulisan ini, mengerti setiap kata dan rangkaian kalimat di tulisan
ini, itu semua karena pendidikan.
Tentu jelas, di umur Negara Indonesia yang sudah berkepala 6 ini bila dihidupi tanpa pendidikan, rasanya begitu mustahil dan fiksi. Dia, bisa bertahan sejauh ini karena dia juga memiliki pendidikan sebagai nyawanya. Seperti yang kita ketahui dengan sangat jelas pula, di pelajaran sejarah khususnya, di awal gembar – gembornya masalah penjajahan, perang dunia, dan semacamnya, disitulah mulai lahir dan menjadi cetak awal sejarah pendidikan di Indonesia, seperti kisah Ki Hajar Dewantara, salah satunya.
Tentu jelas, di umur Negara Indonesia yang sudah berkepala 6 ini bila dihidupi tanpa pendidikan, rasanya begitu mustahil dan fiksi. Dia, bisa bertahan sejauh ini karena dia juga memiliki pendidikan sebagai nyawanya. Seperti yang kita ketahui dengan sangat jelas pula, di pelajaran sejarah khususnya, di awal gembar – gembornya masalah penjajahan, perang dunia, dan semacamnya, disitulah mulai lahir dan menjadi cetak awal sejarah pendidikan di Indonesia, seperti kisah Ki Hajar Dewantara, salah satunya.
Menoleh dari itu semua, pendidikan
telah menjadi jantung yang terus berdetak seiring Negara ini bernafas,
menjalani kehidupannya, melangkah menuju Negara Maju di Dunia. Oleh karenanya
sebagai jantung kehidupan Negara Indonesia, harus senantiasa dijaga
kesehatannya, untuk tetap berfungsi dengan baik, memompa dengan baik, dan
menjadi organ yang tak akan rusak nantinya.
Namun, tujuan utama dalam sebuah
pendidikan, bukanlah sekedar mendidik anak bangsa, para penerus bangsa untuk
tahu huruf, angka, dan hal – hal kecil lainnya. Itu terlalu implisit menurut
saya. Mari kita lihat pendidikan dari belakang kulitnya yang selama ini mungkin
tertutup bagi kalian, atau mungkin saya sendiri. Pendidikan lahir tentu dari
sesosok penggagas, tak lahir begitu saja, tak muncul seketika, dan juga tak
turun dari langit layaknya hujan yak tak pernah kita sambut kedatangannya.
Penggagas – penggagas ini lah para pemeran utama sekaligus dalang dalam
permainan pendidikan di Indonesia ini, seperti para guru, para pengajar, dan
sekutu – sekutunya.
Oleh karena itulah, tujuan utama terlahirnya di Indonesia adalah untuk
menciptakan sebuah “Inspirasi”. Mereka para kuli pendidikan, actor pendidikan,
memberikan sebuah pengajaran, ilmu, wawasan, pengetahuan, sastra, dan segala
hal bukan hanya untuk asupan didikan anak bangsa, melainkan untuk menjadi
penyebar virus inspirasi kepada mereka. Anies baswedan, seorang akademisi,
seorang aktivis, seorang yang berjiwa muda dengan karakteristiknya yang mulai
menua, yang juga turut menjadi penggasa Gerakan
Indonesia Mengajar ini juga memiliki perspektif pendidikan bukanlah hanya
menjadi alat untuk mencerdaskan bangsa, namun menjadi tonggak utama sebagai
inspirasi pendidikan, yang harapannya, para peserta didik bangsa akan turut
menjajaki, menjalani, para pemberi inspirasi itu, untuk melanjutkan diri
menjadi sosok penyebar inspirasi berikutnya. Sehingga, hal ini menjadi sebuah
kerja nyata, tidak, ini akan menjadi mimpi yang nyata bagi bangsa Indonesia.
Sebuah inovasi yang cerdas dalam menilai sebuah estetika dalam dunia
pendidikan.
Lihat, jika andalah salah satu
para pengajar muda yang datang ke sebuah pelosok negeri garuda ini, dan
memberikan sejuta ilmu serta wawasan kepada mereka, apa yang akan mereka
pikirkan terhadap anda?. Walau kita tak dapat menebak pasti dengan survey yang
sudah tersebar bahkan, tak akan ada jawaban yang seratus persen sama, tentu
berbeda. Namun, setidaknya, saya, atau anda pun akan turut yakin, bahwa akan
ada peserta didik yang akan berpikir, bahwa
pendidikan adalah hal yang penting yang harus tetap dilestarikan untuk bangsa
ini. Mungkin contoh kecilnya, dari sepuluh peserta didik, ada yang menunjuk
nunjuk kepada anda, dan dia mengatakan, “aku ingin menjadi sepertimu, mengajari
kami sejuta ilmu, memberi kami sejuta wawasan, lalu didiklah kami, agar kami
bisa menjadi sepertimu, dan meneruskan jejakmu untuk anak cucu kami”.
Bayangkan kawan. Indonesia bukan
lagi menjadi Negara kaya akan budaya, wisata, sumber daya alam bahkan hal
lainnya, Indonesia akan menjadi Negara
kaya akan pendidikan. Bahkan, sebisa mungkin, dan memang seharunysa, Negara
dengan pendidikan terbaik seperti Firlandia, akan tergeser kedudukannya dengan
Indonesia. Namun, ini dilihat kembali, dari bagaimana menciptakan point of view dari sebuah pendidikan
kepada Negara ini Menanamkan bagaimana pentingnya sebuah pendidikan bagi anak –
anak bangsa ini. Dan yang paling terpenting pula, merubah system pendidikan di
Indonesia ini melalui tangan – tangan serta pemikir – pemikir yang memang
berkompeten, dan menjiwai pendidikan itu sendiri, yang tak hanya tau menau,
bahkan sok tau dalam hal pendidikan.
Sehingga hal ini pula yang dapat mengiritkan,
menciutkan dompet Negara dengan hal – hal yang memang tak perlu dilakukan
untuk menjunjung pendidikan, seperti studi banding ke Negara lain dengan hasil
yang nihil, atau lainnya. Kita harus berpikir cerdas untuk Indonesia yang lebih
cerdas. (Nash)

Lumayan gan, tapi lebih banyak kasih data yah, jangan ful opini :)
BalasHapusSiap :) , itu bisa jadi bahan koreksi kami ke depan. terima kasih :)
BalasHapus