image05 image06 image07
Diberdayakan oleh Blogger.

Feature Label Area

Sabtu, 24 Mei 2014

Tagged under:

Ayo bergabung bersama kami



CocoteIndonesia, - Selamat sejahtera dan bahagai sebagai sesama saudara setanah air sahabatku. Di blog ini kami menggali banyak opini dari berbagai narasumber yang menurut tim kami menarik, dan berpengalaman. Diluar itu semua, sahabat cocote bisa turut berpartisipasi penuh dalam membuat opini opini ataupun karya tulis yang cakupan dalam pembahasan mengenai negara kita. Mulai dari masalahnya, sampai apresiasinya.

Adapun prosedur pengirimannya adalah sebagai berikut:

1. Buatlah karya anda dalam bentuk soft file word document
2. Sertakan gambar, ilustrasi, foto yang mendukung karya anda
3. Keorisinilan karya menjadi prioritas utama kami, belum pernah di post di media manapun sebelumnya
4. Lalu, kirimkan ke email keredaksian kami di cocoteindonesia@gmail.com
5. Dan follow twitter kami di @cocoteindonesia, lalu mention ke akun twitter kami bahwa anda telah mengirimkan karya anda melalu email kami, serta berikan deskripsi singkat mengenai karya yang anda buat.

Terima kasih atas kerjasamanya sahabat cocote. Mari kita rubah Indonesia untuk bisa menjadi lebih baik lagi melalui kata - kata yang dituangkan dalam coreta - coretan harapan untuk bangsa :).


Best Regards :)
- COCOTE INDONESIA -

Jumat, 23 Mei 2014

Tagged under: , ,

Jathilan, Seni Merakyat yang Hampir Hilang di Telan Zaman




CocoteIndonesia,Yogyakarta - Jathilan atau kuda lumping adalah kesenian Jawa yang terdiri dari penari, pemain gamelan dan pawang. Penari Jathilan menari-nari mengikuti suara gamelan yang dimainkan oleh ‘wiyogo’ dengan properti anyaman ‘gedhek’ yang berbentuk kuda. Kesenian Jathilan merupakan kesenian yang diminati masyarakat khususnya masyarakat desa. Biasanya pentas Jathilan diadakan ketika 'slametan' atau hajatan. Penonton Jathilan sendiri memang banyak. Bisa dikatakan masih banyak peminat Jathilan namun kesenian ini sendiri sudah jarang ditemui. Ironi sekali

Saat ini keberadaan Jathilan sudah terbilang langka karena pembiayaan yang mahal dan juga generasi penerus yang semakin menurun. Selain itu persepsi mengenai kesenian Jathilan yang dianggap syirik juga mempengaruhi keberadaan Jathilan. 

Namun, Paguyuban Kesenian Jathilan Taruno Mudho mempunyai cara untuk melestarikan kesenian yang merakyat ini. PKJ Taruno Mudo dibawah pimpinan Wandi ini merekrut para pemuda desa setempat untuk ambil andil dalam kesenian Jathilan. Tentunya dengan peran serta pemuda desa kesenian Jathilan tersebut dapat bangkit di desa itu meskipun mereka tidak diberikan upah sebagai imbalan tiap kali pentas. Para pemuda diberikan pelatihan gamelan dan menari agar dapat melestarikan kesenian ini. 

Sebenarnya banyak kendala untuk melestarikan kesenian Jathilan. Salah satunya biaya. Butuh biaya banyak dalam sekali pentas Jathilan. Hal inilah yang menyebabkan banyak paguyuban kesenian Jathilan gulung tikar. Selain itu alat gamelan yang tidak dimiliki sendiri juga menjadi kendala tentunya.



Peran pemerintah sangat penting untuk melestarikan kesenian ini. Memang Dinas Kebudayaan dan Pariwisata melakukan pelestarian kesenian ini namun hanya sebatas pemberian dana itupun tidak mencukupi dan tidak diberikan secara rutin. Seharusnya pemerintah mencari cara lain agar kesenian ini dapat kembali lestari sebelum akhirnya Jathilan benar-benar hilang termakan zaman.



Sources foto : Taruno Mudho facebook

Selasa, 20 Mei 2014

Tagged under: , ,

Hei Iblis, Kau Akan Kalah Bersama Majikanmu!


CocoteIndonesia, - Memang negeri ini sudah dibuali berbagai kenyataan yang cukup munafik. Mereka yang dipercaya menusuk rakyatnya dengan wacana yang bodoh. Mereka berniat untuk menciptakan Negara bodoh. Dan salah satu senjata sakti mereka untuk mencapai keinginan jahanam ini adalah sebuah Media. Media menjadi sesosok malaikat yang hadir di tengah kegundahan mereka. Malaikat yang kemudian menjelma menjadi sesosok iblis biadab yang siap membutakan rakyatnya dari kebenaran yang seharusnya mereka saksikan dan dengar.

Ilustrasi


Ya, ini bukanlah curahan dari rakyat yang buta kebenaran. Bukan hanya kegundahan dan kegelisahan mereka yang hanya tinggal di sebuah gubuk tua. Bukan hanya ketakutan mereka yang selalu mengangkat tangan manis mereka di tengah hiruk piku kaum metropolis. Tapi juga mereka yang masih bersih tanpa dosa, yang nantinya akan menjadi saksi kebenaran di era berikutnya, mereka berbicara melalui rahim ibundanya tercinta. “Kami memang dibutakan, kami memang ditulikan, kami memang dibodohi, tapi janganlah turun dari kursi – kursi nyaman yang telah kalian duduki sekarang. Kelak, bukan tangan kami, bukan juga kaki kaki kami, bukan juga teriakan – teriakan kami, yang akan membuat anda membenci kursi itu dan meninggalkannya, tapi hati ini dan semangat merah putih ini lah yang akan menjadi anak panah berlapis idealisme Negara Indonesia yang sebenarnya, yang akan tertancap tepat ditempat duduk itu. Sehingga kalian akan berlari ketakutan mencari perlindungan dari iblis yang kalian dewakan. Namun iblis itu pun sudah terhunus terlebih dulu dari kalian, oleh kami. Kemana lagi kalian akan lari? Kalian hanya perlu lari mencari tempat yang aman, di sebuah jeruji besi berkarat, dengan kondisi gemerlap, tanpa harapan. Berkumpul bersama mereka yang suka mencuri jiwa manusia, memainkan nafsu birahi, serta yang paling dekat dengan kalian adalah mereka yang sering mencuci mulut mereka dengan kertas bergambar pahlawan tanah air Negara ini !.” Sahut mereka penuh dengan semangat para bung – bung jaman tanah kita masih merdeka.

“Tenangkahlah diri kalian sekarang untuk menikmati kursi itu, selagi kami merakit senjata kami di sebuah gubuk – gubuk kecil para warga yang rendah hati. Tenangkanlah para koloni yang kalian miliki, selagi kami menikmati senjata kami yang baru kami perawani. Tenangkanlah para tikus peliharaan kalian, selagi kami masih berjalan memikul kebenaran yang manis ini sebelum menuju singgahsanannya. Tenangkalanlah diri kalian sebelum kalian kami lucuti dan telanjangi di depan para dewa kemiskinan, yang dulu menangis dengan tangisan darah namun sekarang bahagia, tersenyum lebar sampai memperlihatkan giginya, yang nan kan membuat silau dan membuat matamu buta.” Lagi, prakata – prakata manis muncul begitu saja dari suara garuda cilik di negeri ini.

“Ketika itu pula kau mulai tuli dengan sastra – sastra kita yang kalian tak kan bisa kalian mengerti! Ketika itu pula kalian mulai buta dengan melihat cahaya kebenaran yang telah kami bawa! Ketika itu pula kalian membeku merasakan dinginnya jalan pikir kami! Ketikan itu pula kalian mulai terbakar karena kobaran api semangat sang garuda di tanah airnya, sendiri! Ketika itu pula kalian mulai menangis mendengar lantunan kebahagiaan kami yang tak lagi semu!” Gentar seperti gemuruh yang menghujam satu dunia, itulah ungkapan kecil dari kami yang akan menjadi besar.

“Kebenaran memang sedang berjalan menuju singgasananya. Tapi kelak itu akan menjadi bom waktu yang akan menghampirimu dan meledakkan rumahmu, keluargamu, kekayaanmu, kesenanganmu, dan juga kepalamu. Ya, kepala, kepala yang hanya berisi uang uang dan uang. Kalian telah menzalimi mereka, para pahlawan kita yang tergambar di lembaran itu, namun kau telah menjadikannya sebagai senjata menuju kesenangan dan kegilaanmu semata!” lantang dari para nelayan dan petani yang ditinggal mati keluarganya karena sebutir tak Ia dapatkan dari jerih payahnya.

“Seketika itu kau akan menjadi gila, segila – gilanya!” Searaya ku menutup surat hati kecilku untuk Negara ini. (Anonym)
Tagged under: , ,

Orang Indonesia di Kaki Langit

Berbicara tentang indonesia, banyak hal yang bisa kita angkat dari berbagai sisi dan tiap-tiap sudut yang sudah pasti memiliki cerita dan maknanya masing-masing. Dan untuk kesempatan kali ini kami menemukan satu fakta unik tentang masyarakat indonesia dikaki langit. 

Berbicara mengenai pengamen, sudah pasti semua orang akan dengan mudah mendeskripsikan pengamen itu seperti apa. Tapi untuk pengamen yang satu ini yang kita temui di Jl.Malioboro ini jauh berbeda dari pengamen pada umumnya. Mengapa berbeda? Pengamen yang satu ini orang asli batam, umur 28th dan akrab dengan panggilan Mas Batam dikalangan sesama pengamennya. Ia mulai tidak bisa berjalan pada umur 2th karena terserang penyakit polio yang mengakibatkan ia sampai sekarang harus menggunakan alat bantu tongkat untuk menunjang kegiatanya sehari-hari.

Ketika ditanya mengapa lebih memilih menjadi pengamen dengan kondisi yang kurang normal tersebut? Ia dengan tersenyum menjawab “saya memang mengamen tapi kegiatan ini bukan menjadi mata pencaharian utama. Jadi saya punya beberapa lagu yang saya cipta sendiri dan rencana mau buat video klip untuk launching mini album jadi saya sekalian promosi . jadi sambil menyelam minum air mbak” ujar Mas Batam. Bertanya mengenai keseharian pengamen yang satu ini dimulai dari pagi menjelang sore hari ia hanya bersantai dirumah dengan menulis lagu dan istirahat siang. Dan mulai ngamen jam 16.00-21.00 di seputaran malioboro dan hanya mendapat giliran mengamen 2 putaran sekitar malioboro, ujarnya. Tapi sering juga diajakin teman putar-putar, sambungnya kemudian. 

Mas Batam


Penasaran dengan berapa pendapatan pengamen?
Berdasarkan fakta yang kami dapat, untuk 2kali putaran maliorboro tiap-tiap pengamen bisa mengantongi pendapatan sebesar 150rb-200rb. Ini lebih dari cukup untuk sekedar bertahan hidup dijogja, ujar pengamen unik tersebut.