Yogyakarta, CocoteIndonesia - Apa yang anda pikirkan ketika melihat
anak tidak normal? Baik dia tidak normal fisik maupun mental?apakah anda merasa
jijik atau mungkin merasa bersyukur
dengan keadaan anda sekarang?
ya, anda patut bersyukur kepada
Tuhan karena telah memberikan anda fisik dan pikiran yang normal. Kebanyakan
orang memandang aneh ketika melihat orang yang memiliki fisik tidak normal.
Kita bahkan sering mengeluh ketika melewati masa sulit dalam kehidupan. Sering
kita melupakan bahwa masih banyak orang diluar sana yang memiliki keterbatasan
dalam melakukan segala hal, sehingga mereka sangat bergantung pada bantuan
orang lain.
Dalam postingan kali ini tim
“COCOTE INDONESIA” akan membahas tentang anak yang menderita tunagrahita,
sebelum menjelaskan lebih lanjut alangkah baiknya jika anda mengetahui terlebih
dahulu apa itu anak. Anak merupakan anugerah dari Tuhan Yang Maha Kuasa bagi
setiap orang tua. Orang tua selalu mengharapkan anaknya terlahir dengan normal
tanpa kekurangan fisik maupun mental. Tetapi sekarang ini di Indonesia banyak
sekali anak yang terlahir cacat, baik cacat fisik maupun mental. Kali ini kami
akan membahas tentang cacat mental yang dialami oleh anak. Cacat mental menurut
Agus Wayuno adalah suatu keadaan baik disebabkan oleh faktor intrinsik maupun ekstrinsik,
tidak terdapat perkembangan mental yang wajar, biasa dan normal sehingga
sebagai akibat ketidakmampuan dalam bidang IPTEK, kemauan, rasa dan penyesuaian
sosial.
Sebagai contoh Tunagrahita, masih
banyak orang yang belum mengetahui apa itu tunagrahita. Tunagrahita merupakan
istilah yang digunakan untuk menyebut anak yang mempunyai kemampuan intelektual
dibawah rata-rata disertai dengan ketidakmampuan dalam adaptasi perilaku yang
muncul dalam masa perkembangan. Istilah lain untuk siswa (anak) tunagrahita
dengan sebutan anak dengan hendaya perkembangan. Diambil dari kata Children
with developmental impairment, kata impairment diartikan sebagai hendaya atau
penurunan kemampuan atau berkurangnya kemampauan dalam segi kekuatan, nilai,
kualitas, dan kuantitas.
Dalam hal ini orang tua sangat
berperan penting dalam upaya pengasuhan anak tunagrahita. Bagaimana cara orang
tua memperlakukan dan mengambil sikap, metode-metode pengasuhan seperti apa
yang seharusnya diterapkan. Terutama metode untuk menangani gejolak emosi anak
tunagrahita. Contoh kasus yang kami amati di sebuah keluarga yang memiliki anak
tunagrahita berumur 14 tahun bernama Fajar. Anak ini memiliki bola mata yang
besar dan mulutnya melongo. Kami mengamati ketika Fajar sedang diajarkan suatu
hal oleh ibunya. Ibunya harus mengajarkan hal tersebut berkali-kali sampai
Fajar mengerti. Tetapi masih saja cara kerjanya dan hasilnya tidak sempurna.
Anak tunagrahita mengalami
keterbatasan dalam berhubungan dengan orang lain, mereka juga tidak dapat
mengurus, memelihara dan memimpin diri sendiri. Pada waktu masih kanak-kanak
mereka harus dibantu terus menerus. Anak tunagrahita juga masih membutuhkan
bantuan orang lain dalam melakukan kegiatan seharihari. Misalnya disuapi
makanan, dipasangkan dan ditanggali pakaian dan sebagainya. Bahkan ketika
bermain dengan anak-anak yang lain harus diawasi. Mereka yang menderita
tunagrahita biasanya bermain dengan anak-anak yang lebih muda daripadanya,
karena mereka tidak bisa bersaing dengan teman sebayanya. Setelah dewasa mereka
juga bergantung pada bantuan orang lain. Kondisi tersebut mengakibatkan anak
tunagrahita mendapat label tertentu dari masyarakat. Biasanya masyarakat
memberi label anak gila, anak stress, anak bodoh dan lain-lain.
Dengan keadaan seperti itu mereka
biasanya menjadi korban ejekan karena memiliki wajah yang khas dan memiliki
keterbatasan kemampuan. Bahkan mereka bisa dikira orang gila saat berada
didalam keramaian. Ketika anak tunagrahita berada di dalam keramaian pasti
semua orang akan memandangnya sebelah mata, misal saja jika mereka ditawari
pasti mereka juga tidak mau dilahirkan didunia ini dengan keadaan tidak normal.
Meskipun begitu, anak tunagrahita juga memiliki sisi kelebihan. Fajar misalnya,
dia memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Dia suka menari-nari didepan orang
banyak, dan dia pun mudah kenal dengan orang yang baru ia temui. Hal ini harus
kita sadari karena meskipun mereka seperti itu, mereka juga merupakan Warga
Negara Indonesia yang patut dilindungi. Mereka juga patut di akui menjadi warga
Negara yang baik karena sangat kecil kemungkinan bahwa mereka akan merugikan
Negara.
.
Sumber Referensi :
- Casmini, Op. Cit, hal 67
- Sri Rumuni, Pengetahuan
Subnormalitas Mental, (Yogyakarta, FIP-IKIP, 1980) hal 3
- Somantri, hal 65-193
- American Heritage
Dictionary,1982: 644; Maslim.R.,2000:119 dalam Delphie: 2006 :hal 113

0 komentar:
Posting Komentar