Diberdayakan oleh Blogger.

Selasa, 20 Mei 2014

Tagged under: , ,

Hei Iblis, Kau Akan Kalah Bersama Majikanmu!


CocoteIndonesia, - Memang negeri ini sudah dibuali berbagai kenyataan yang cukup munafik. Mereka yang dipercaya menusuk rakyatnya dengan wacana yang bodoh. Mereka berniat untuk menciptakan Negara bodoh. Dan salah satu senjata sakti mereka untuk mencapai keinginan jahanam ini adalah sebuah Media. Media menjadi sesosok malaikat yang hadir di tengah kegundahan mereka. Malaikat yang kemudian menjelma menjadi sesosok iblis biadab yang siap membutakan rakyatnya dari kebenaran yang seharusnya mereka saksikan dan dengar.

Ilustrasi


Ya, ini bukanlah curahan dari rakyat yang buta kebenaran. Bukan hanya kegundahan dan kegelisahan mereka yang hanya tinggal di sebuah gubuk tua. Bukan hanya ketakutan mereka yang selalu mengangkat tangan manis mereka di tengah hiruk piku kaum metropolis. Tapi juga mereka yang masih bersih tanpa dosa, yang nantinya akan menjadi saksi kebenaran di era berikutnya, mereka berbicara melalui rahim ibundanya tercinta. “Kami memang dibutakan, kami memang ditulikan, kami memang dibodohi, tapi janganlah turun dari kursi – kursi nyaman yang telah kalian duduki sekarang. Kelak, bukan tangan kami, bukan juga kaki kaki kami, bukan juga teriakan – teriakan kami, yang akan membuat anda membenci kursi itu dan meninggalkannya, tapi hati ini dan semangat merah putih ini lah yang akan menjadi anak panah berlapis idealisme Negara Indonesia yang sebenarnya, yang akan tertancap tepat ditempat duduk itu. Sehingga kalian akan berlari ketakutan mencari perlindungan dari iblis yang kalian dewakan. Namun iblis itu pun sudah terhunus terlebih dulu dari kalian, oleh kami. Kemana lagi kalian akan lari? Kalian hanya perlu lari mencari tempat yang aman, di sebuah jeruji besi berkarat, dengan kondisi gemerlap, tanpa harapan. Berkumpul bersama mereka yang suka mencuri jiwa manusia, memainkan nafsu birahi, serta yang paling dekat dengan kalian adalah mereka yang sering mencuci mulut mereka dengan kertas bergambar pahlawan tanah air Negara ini !.” Sahut mereka penuh dengan semangat para bung – bung jaman tanah kita masih merdeka.

“Tenangkahlah diri kalian sekarang untuk menikmati kursi itu, selagi kami merakit senjata kami di sebuah gubuk – gubuk kecil para warga yang rendah hati. Tenangkanlah para koloni yang kalian miliki, selagi kami menikmati senjata kami yang baru kami perawani. Tenangkanlah para tikus peliharaan kalian, selagi kami masih berjalan memikul kebenaran yang manis ini sebelum menuju singgahsanannya. Tenangkalanlah diri kalian sebelum kalian kami lucuti dan telanjangi di depan para dewa kemiskinan, yang dulu menangis dengan tangisan darah namun sekarang bahagia, tersenyum lebar sampai memperlihatkan giginya, yang nan kan membuat silau dan membuat matamu buta.” Lagi, prakata – prakata manis muncul begitu saja dari suara garuda cilik di negeri ini.

“Ketika itu pula kau mulai tuli dengan sastra – sastra kita yang kalian tak kan bisa kalian mengerti! Ketika itu pula kalian mulai buta dengan melihat cahaya kebenaran yang telah kami bawa! Ketika itu pula kalian membeku merasakan dinginnya jalan pikir kami! Ketikan itu pula kalian mulai terbakar karena kobaran api semangat sang garuda di tanah airnya, sendiri! Ketika itu pula kalian mulai menangis mendengar lantunan kebahagiaan kami yang tak lagi semu!” Gentar seperti gemuruh yang menghujam satu dunia, itulah ungkapan kecil dari kami yang akan menjadi besar.

“Kebenaran memang sedang berjalan menuju singgasananya. Tapi kelak itu akan menjadi bom waktu yang akan menghampirimu dan meledakkan rumahmu, keluargamu, kekayaanmu, kesenanganmu, dan juga kepalamu. Ya, kepala, kepala yang hanya berisi uang uang dan uang. Kalian telah menzalimi mereka, para pahlawan kita yang tergambar di lembaran itu, namun kau telah menjadikannya sebagai senjata menuju kesenangan dan kegilaanmu semata!” lantang dari para nelayan dan petani yang ditinggal mati keluarganya karena sebutir tak Ia dapatkan dari jerih payahnya.

“Seketika itu kau akan menjadi gila, segila – gilanya!” Searaya ku menutup surat hati kecilku untuk Negara ini. (Anonym)

2 komentar:

  1. Jadi disini media diibaratkan seperti iblis yg membutakan semua mata manusia??

    BalasHapus
  2. Menurut saya lebih tepatnya, media sekarang sudah dimiliki oleh tangan2 bisnis didalamnya, bukan lagi menjunjung tinggi nilai idealis dari masing2 media, melainkan menjunjung tinggi nilai bisnis yang ada didalamnya. Mengingat media swasta di negara kita jauh lebih maju dan banyak ketimbang media milik negara itu sendiri. Karena prioritasnya saja sudah salah kaprah, maka mereka buta terhadap kepedulian untuk mencerdaskan rakyat lewat siaran siarannya... begitulah saudara umi :)

    BalasHapus