CocoteIndonesia, - Memang negeri ini sudah dibuali
berbagai kenyataan yang cukup munafik. Mereka yang dipercaya menusuk rakyatnya
dengan wacana yang bodoh. Mereka berniat untuk menciptakan Negara bodoh. Dan
salah satu senjata sakti mereka untuk mencapai keinginan jahanam ini adalah
sebuah Media. Media menjadi sesosok malaikat yang hadir di tengah kegundahan
mereka. Malaikat yang kemudian menjelma menjadi sesosok iblis biadab yang siap
membutakan rakyatnya dari kebenaran yang seharusnya mereka saksikan dan dengar.
Ya, ini bukanlah curahan dari
rakyat yang buta kebenaran. Bukan hanya kegundahan dan kegelisahan mereka yang
hanya tinggal di sebuah gubuk tua. Bukan hanya ketakutan mereka yang selalu
mengangkat tangan manis mereka di tengah hiruk piku kaum metropolis. Tapi juga
mereka yang masih bersih tanpa dosa, yang nantinya akan menjadi saksi kebenaran
di era berikutnya, mereka berbicara melalui rahim ibundanya tercinta. “Kami
memang dibutakan, kami memang ditulikan, kami memang dibodohi, tapi janganlah
turun dari kursi – kursi nyaman yang telah kalian duduki sekarang. Kelak, bukan
tangan kami, bukan juga kaki kaki kami, bukan juga teriakan – teriakan kami,
yang akan membuat anda membenci kursi itu dan meninggalkannya, tapi hati ini dan
semangat merah putih ini lah yang akan menjadi anak panah berlapis idealisme
Negara Indonesia yang sebenarnya, yang akan tertancap tepat ditempat duduk itu.
Sehingga kalian akan berlari ketakutan mencari perlindungan dari iblis yang
kalian dewakan. Namun iblis itu pun sudah terhunus terlebih dulu dari kalian,
oleh kami. Kemana lagi kalian akan lari? Kalian hanya perlu lari mencari tempat
yang aman, di sebuah jeruji besi berkarat, dengan kondisi gemerlap, tanpa
harapan. Berkumpul bersama mereka yang suka mencuri jiwa manusia, memainkan
nafsu birahi, serta yang paling dekat dengan kalian adalah mereka yang sering
mencuci mulut mereka dengan kertas bergambar pahlawan tanah air Negara ini !.”
Sahut mereka penuh dengan semangat para bung – bung jaman tanah kita masih
merdeka.
“Tenangkahlah diri kalian
sekarang untuk menikmati kursi itu, selagi kami merakit senjata kami di sebuah
gubuk – gubuk kecil para warga yang rendah hati. Tenangkanlah para koloni yang
kalian miliki, selagi kami menikmati senjata kami yang baru kami perawani.
Tenangkanlah para tikus peliharaan kalian, selagi kami masih berjalan memikul
kebenaran yang manis ini sebelum menuju singgahsanannya. Tenangkalanlah diri
kalian sebelum kalian kami lucuti dan telanjangi di depan para dewa kemiskinan,
yang dulu menangis dengan tangisan darah namun sekarang bahagia, tersenyum
lebar sampai memperlihatkan giginya, yang nan kan membuat silau dan membuat
matamu buta.” Lagi, prakata – prakata manis muncul begitu saja dari suara
garuda cilik di negeri ini.
“Ketika itu pula kau mulai tuli
dengan sastra – sastra kita yang kalian tak kan bisa kalian mengerti! Ketika
itu pula kalian mulai buta dengan melihat cahaya kebenaran yang telah kami
bawa! Ketika itu pula kalian membeku merasakan dinginnya jalan pikir kami! Ketikan
itu pula kalian mulai terbakar karena kobaran api semangat sang garuda di tanah
airnya, sendiri! Ketika itu pula kalian mulai menangis mendengar lantunan
kebahagiaan kami yang tak lagi semu!” Gentar seperti gemuruh yang menghujam
satu dunia, itulah ungkapan kecil dari kami yang akan menjadi besar.
“Kebenaran memang sedang berjalan
menuju singgasananya. Tapi kelak itu akan menjadi bom waktu yang akan
menghampirimu dan meledakkan rumahmu, keluargamu, kekayaanmu, kesenanganmu, dan
juga kepalamu. Ya, kepala, kepala yang hanya berisi uang uang dan uang. Kalian
telah menzalimi mereka, para pahlawan kita yang tergambar di lembaran itu,
namun kau telah menjadikannya sebagai senjata menuju kesenangan dan kegilaanmu
semata!” lantang dari para nelayan dan petani yang ditinggal mati keluarganya
karena sebutir tak Ia dapatkan dari jerih payahnya.

Jadi disini media diibaratkan seperti iblis yg membutakan semua mata manusia??
BalasHapusMenurut saya lebih tepatnya, media sekarang sudah dimiliki oleh tangan2 bisnis didalamnya, bukan lagi menjunjung tinggi nilai idealis dari masing2 media, melainkan menjunjung tinggi nilai bisnis yang ada didalamnya. Mengingat media swasta di negara kita jauh lebih maju dan banyak ketimbang media milik negara itu sendiri. Karena prioritasnya saja sudah salah kaprah, maka mereka buta terhadap kepedulian untuk mencerdaskan rakyat lewat siaran siarannya... begitulah saudara umi :)
BalasHapus